Friday, May 2, 2014

China Trip - Day 3 : Beijing

Good morning, China! Kayaknya ungkapan ini cocok untuk jadi judul cerita, buku atau bahkan film! (jadi ingat Good Morning Vietnam nya Robin Williams). Sorry kalau agak maksa, maklum..over antusias. Bangun pagi dengan penuh semangat karena akan melihat wajah Beijing di pagi hari untuk pertama kalinya. Hari ini bisa melihat secara langsung salah satu kota yang paling terkenal di dunia, di negara dengan salah satu kebudayaan tertua dalam sejarah manusia. Jumlah penduduk negara ini 1.3 milliar, 5 kali jumlah penduduk Indonesia! Kalau di pulau Jawa yang sudah overload jumlah penduduknya, masalah kepadatan ini sangat terasa. Saya dulu pernah tinggal cukup lama di Jakarta, yang saya rasakan waktu itu seakan-akan tidak cukup banyak ruang dan tempat untuk semua orang. Terakhir waktu singgah di kota ini, lautan motor di jalan area Grogol benar-benar membuat mual. Tapi kenyataannya daya tarik kota ini masih sangat besar karena statusnya sebagai ibu kota, yang pastinya lebih maju dari kota-kota lain di Indonesia dalam segi ekonomi, pendidikan, infrastruktur dan lain-lain. Belum lama ini saya juga sempat ke Bali, dengan masalah klasik yang sama. Saya waktu itu sempat membayangkan, bagaimana seandainya Bali punya infrastruktur dan ditata seperti misalnya Singapura? Akankah wisatawan yang datang naik berkali-kali lipat dan begitu juga ekonominya? Atau justru daya tarik pulau ini adalah apa adanya yang dianggap eksotis oleh para wisman? Ahem..sebelum nyasar terlalu jauh, back to Beijing. Apakah wajah kota ini bakal sama dengan Jakarta? I hope not. Malam sebelumnya sih tidak terasa demikian. So we’ll see about that.
Hotel Peixin - Dining Room
Ruang makan di Hotel Peixin cukup besar dan bagus. Menu buffet yang disajikan pun cukup variatif. Ada menu ala Chinese dengan masakan panas ‘re chai’ (disajikan panas seperti umumnya menu di restoran Indonesia) dan juga masakan dingin nya yang disebut ‘liang chai’. Masakan dingin ini merupakan menu sayuran dan sejenisnya yang memang disajikan dan disantap dingin. Ada juga menu breakfast ala negara barat seperti roti panggang et al, sosis dan telur. Setelah makan kenyang, kami semua menunggu di lobby dan langsung berangkat begitu bis datang. Pagi ini sangat cerah dan benar-benar sempurna untuk jalan-jalan. Memang agak sedikit berangin yang membuat udara jadi terasa agak dingin. Tapi kami semua sudah siap dengan memakai sweater, jaket, syal, topi, sarung tangan dan sejenisnya. Begitu sampai di area Tiananmen Square, angin musim semi yang sejuk semakin terasa di lapangan yang terbentang luas ini. Dan seperti yang sudah diwanti-wanti tour guide, banyak pedagang asongan yang menjual pernak-pernik yang berhubungan dengan kota Beijing. Kami diperingati untuk tidak memegang atau melihat-lihat seandainya tidak berminat untuk membeli. Karena mereka akan terus membuntuti seandainya kita menunjukkan sedikit saja rasa tertarik. Pengunjung yang datang sudah ramai, dan antrian untuk melihat makam almarhum Mao Ze Dong sudah luar biasa panjang. Kami tidak ikut mengantri karena waktu yang terbatas. Menurut Ms. Eka, diperlukan waktu berjam-jam untuk mengantri hanya untuk melihat sebentar makam salah satu tokoh China yang paling legendaris ini. Katanya lagi, keramaian seperti ini masih bukan puncaknya. Gak kebayang deh bagaimana ramainya di peak season. Lapangan ini menjadi semakin terkenal karena insiden berdarah karena pergolakan politik yang pernah terjadi di tahun 1989.
Tiananmen Square
Cukup banyak mahasiswa dan juga warga sipil yang menjadi korban. Tapi kalau melihat kondisi di lapangan hari ini, kejadian kelam masa lalu itu jelas tertutup oleh daya tarik tempat ini sebagai objek wisata wajib di Beijing! Yang paling populer menjadi objek foto adalah yang berlatar gedung berarsitektur China kuno dengan lukisan wajah Mao Ze Dong di dinding depannya. Bangunan ini merupakan jalan masuk ke area Kota Terlarang. Setelah puas foto-foto dan menikmati pemandangan sekitar lapangan ini, kamipun melanjutkan tour ke Kota Terlarang di seberang jalan melalui terowongan bawah tanah. Begitu mulai memasuki area Kota Terlarang, langsung terasa kesannya yang sangat massive. Bayangkan saja, kompleks yang merupakan bekas kompleks istana di era Dinasty Ming dan Qing ini terdiri dari 980 bangunan dengan luas 720.000 m2! Kompleks yang sudah berusia lebih dari 600 tahun ini terawat baik. Kalau melihat lautan massa pengunjung seperti juga di Tiananmen Square, saya angkat topi untuk pemerintah China yang benar-benar menggarap segi parawisata dengan sangat profesional. Tidak bermaksud untuk terus membanding-bandingkan, tapi dalam hati saya berharap pemerintah Indonesia juga bisa seperti itu. Karena sudah sangat jelas bidang ini punya potensi yang sangat besar.
Gerbang Forbidden City
Satu demi satu bangunan kami lewati, dan setiap bangunan ini punya sejarah dan cerita sendiri-sendiri. Ada yang merupakan gedung yang dulunya merupakan tempat dilakukannya ujian untuk seleksi pegawai kerajaan. Ada juga yang merupakan tempat Kaisar mengganti baju kebesarannya. Keren gak tuh, untuk ganti baju saja ada gedung khusus! Dan tentu saja, yang paling ingin dilihat orang adalah gedung tempat tahta Kaisar. Sayangnya, demi alasan keamanan, tahta Kaisar ini tidak bisa dilihat dari dekat, hanya dari pembatas yang dipasang di pintu masuk. Berapapun kalori yang terbakar dalam usaha saya memelekkan mata kelihatannya sia-sia. Yang terlihat hanya tahta tempat duduk Kaisar yang samar-samar (in case you’re wondering, no, di dalam tidak dipasang lampu hias mewah atau sejenisnya hehe). Untuk bisa sampai ke posisi depan pintu dan sekedar melongok ke dalam pun diperlukan tekad baja dan perjuangan hidup mati (ok, mungkin saya sedikit berlebihan). Sayangnya khusus untuk masalah yang satu ini, kurang terkelola dengan baik. Tidak ada jalur antrian untuk melihat sehingga pengunjung berdesak-desakan (baca: dorong-dorongan) dari seluruh penjuru mata angin untuk melihat sesuatu yang tidak terlihat. Ada seorang wisman bule yang begitu sukses sampai di posisi depan pintu, menjepret tempat duduk keramat tersebut dengan DSLR nya, terus sambil pergi ngomong ke temannya: “I didn’t really see anything..”
Tahta Kaisar
Dari situ kami sempat toilet break sebentar, dan toilet di China memang tidak terkenal bersih, seperti yang sudah banyak diceritakan orang-orang yang pernah berkunjung ke negara ini. Toilet di dalam kompleks ini memang tidak kotor sekali, tapi menurut saya kurang luas dan bersih. Terlalu sempit dan kecil untuk tempat seukuran tempat ini. Belum lagi wewangian aroma terapi yang menyebar. Tapi ini belum seberapa, ada pengalaman ke toilet yang lebih parah di tempat lain (I’ll tell you about it later). Untungnya setelah itu paru-paru kami kembali dibersihkan dengan jalan-jalan di taman yang ada di dalam kompleks ini, tempat Kaisar dulunya jalan-jalan sore. Di taman ini ada satu pohon yang sudah sangat terkenal, yang sudah pernah saya dengar ceritanya sebelum ke sini. Anda juga mungkin sudah pernah dengar. Pohon ini memang unik, terdiri dari dua pohon yang cabangnya saling melilit, dan diberi julukan pohon suami-istri. Banyak pasutri yang mengabadikannya dan berfoto dengan latar pohon ini. Pemandangan aneh lain adalah ada satu gedung yang seakan-akan ditumbuhi oleh terumbu karang yang menjalar di dinding. Ada cerita yang melatarinya, cuma sayangnya saya tidak ingat persis. Yang saya ingat, terumbu karang ini dibawa dari luar dan dipasang di dinding gedung hanya untuk hiburan Kaisar. Tidak terlalu lama setelah keluar dari area taman, tanpa terasa, sampai juga kami di penghujung kompleks. 
Couple Tree
Dari pintu keluar, kami berjalan kaki menuju ke suatu perempatan untuk menunggu bis yang akan datang menjemput kami. Pemandangan sepanjang jalan cukup indah dan asri. Informasi tentang udara Beijing yang tercemar parah oleh polusi anehnya tidak saya rasakan. Katanya sih ketika menjelang Olimpiade 2008 dimana Beijing menjadi tuan rumah, pemerintah sangat ketat soal kualitas udara. Tapi informasi terakhir yang saya dapat, kualitas udara kota kembali menurun semenjak berakhirnya event internasional itu. Jadi saya tidak tahu apakah waktu itu emosi saya yang bicara atau logika, tapi yang jelas saya memang tidak merasakan udara yang sumpek dan menyesakkan hidung dan paru-paru. Setelah bis datang, kami langsung meluncur ke restoran untuk makan siang. Restoran yang kami kunjungi ternyata cukup besar dan bagus. Payung warna-warni dipasang menggantung terbalik di langit-langit. Ada juga lampion dan lukisan-lukisan wajah khas opera China di dinding. Masakannya juga cukup enak. Di salah satu pojok restoran ada sebuah stand yang menjual bermacam-macam barang buatan lokal, pernak-pernik perhiasan, boneka, mainan dan sebagainya. Harga barang yang tidak terlalu mahal sempat membuat ibu-ibu peserta tour tertahan cukup lama di sini karena memborong boneka dan sejenisnya untuk kenang-kenangan. Di dekat pintu keluar masuk, dipajang sejumlah gelas kaca yang berisi cairan dengan ular yang diawetkan! Mungkin ramuan obat, saya tidak tahu pasti. Kalau Anda termasuk yang tidak terlalu nge-fans dengan binatang yang satu ini, tidak disarankan untuk mempelototi pajangan ini terlalu lama. Bisa-bisa selera makannya hilang...
Setelah lunch kami dibawa ke suatu tempat untuk pijat kaki gratis! Betul, Anda tidak salah baca. Katanya sih tempat pijat kaki ini merupakan tempat yang biasa dipakai untuk melayani tamu-tamu agung dari negara lain. Sebagai bukti, foto-foto negarawan yang pernah berkunjung dipasang di dinding di sepanjang lorong di lantai dua. Saya melihat foto Ibu Megawati, Mahatir Muhammad, dan juga Ferdinand Marcos (ex Presiden Filipina). Kami dibawa ke sebuah ruangan yang cukup besar yang berisikan deretan kursi-kursi empuk. Setelah itu dibawakan air panas di dalam wadah yang sudah diberi sejenis obat untuk merendam kaki. Sambil menunggu petugas pijatnya datang, kami diberi pengarahan dan sekilas info oleh seorang Bapak yang ternyata orang Indonesia yang telah lama pindah permanen ke China. Dijelaskan tentang segala macam obat dan layanan pemeriksaan kesehatan yang mereka tawarkan. Ternyata ‘tukang pijat’ nya adalah para remaja yang sedang training di tempat ini. Sesuai tebakan saya, sambil dipijat, mereka mulai menawarkan obat-obatan dan layanan dokter untuk memeriksa kesehatan. Tapi tenang saja, tidak ada paksaan. Kalau tidak tertarik, Anda tidak perlu beli apa-apa dan hanya mendapatkan compliment berupa pijat gratis. Setelah menjelajahi Tiananmen Square dan Kota Terlarang yang sangat luas, apalagi sih yang lebih hebat dari pijat kaki gratis? Ketika menuju pintu keluar di bawah setelah selesai pijat, saya melihat tulisan menarik yang dipajang di atas meja stand yang menjual aksesoris gelang, sejenis batu untuk kesehatan dan lain-lain. Tertulis dalam tiga bahasa: Mandarin, Bahasa Indonesia/Melayu, dan Inggris. Dalam bahasa Mandarin dan Inggris, kalau diartikan tulisannya ‘beli lima gratis dua’. Tapi yang istimewa, dalam Bahasa Indonesia/Melayu tertulis dengan huruf ukuran paling besar di tengah-tengah: “batu bian gue, beli lima geratis (free) satu”. Dalam hati saya berpikir, ini perlakuan diskriminatif untuk kita, salah tulis, atau mereka pikir kita idiot?? Kita anggap yang kedua saja deh (ingat, positive thinking, my friend).

Dari sini, tujuan berikutnya: Olympic Park! Akhirnya bakal melihat secara langsung ‘Sarang Burung’ yang terkenal itu. Sayangnya tidak ada agenda untuk masuk ke dalam, jadi kami hanya akan melihat-lihat dan foto-foto di luar stadion utama, gedung perlombaan renang dan lain-lain. Di area lapangan menuju stadion juga ada pemandangan yang cukup spesial, di bawah ternyata bisa melihat jalan tol dengan lalu lintas yang ramai. Mobil-mobil dari segala macam merk dan jenis mengalir seperti air yang tidak ada hentinya. Menurut Ms. Eka, jika dulu Beijing terkenal dengan sepedanya, yang saking banyaknya diklaim bahwa setiap penduduk Beijing punya satu sepeda, sekarang ini jumlah sepeda sudah kalah banyak dibanding jumlah mobil! Mobil Audi yang termasuk kelas menengah atas di Indonesia tidak dianggap spesial di Beijing. Kalau mau dianggap kaya, kamu harus punya mobil Rolls Royce! Ckckck...saya jadi teringat dulu pernah baca artikel di majalah Fortune yang membahas kemajuan ekonomi China. Dalam suatu event pameran mobil internasional, di stand BMW yang ketika itu meluncurkan seri limited edition, pada waktu serah terima kunci yang diliput oleh pers, ternyata pembelinya adalah seorang anak muda yang datang hanya pakai kaus dan celana pendek...Di dekat area jalan tol ini terdapat sebuah gedung pencakar langit yang puncaknya berbentuk seperti kepala naga. Ternyata di dalam bangunan ini terdapat Hotel 7 Bintang Pangu (alias Gold Dragon atau naga emas) yang merupakan bagian dari Pangu Plaza, kompleks perkantoran, apartment, mall dan restoran mewah. Gedung eksotis ini merupakan hasil rancangan arsitek terkenal asal Taiwan C.Y. Lee yang juga merancang gedung tertinggi nomor dua di dunia, Taipei 101 di Taiwan.
Hotel Pangu dilihat dari Olympic Park
Berhubung cuma diberi waktu setengah jam, saya buru-buru berjalan ke arah stadion ‘Bird’s Nest’ untuk melihat lebih dekat. Arsitektur stadion ini memang sangat indah dan sebuah masterpiece. Setelah itu saya juga menyempatkan diri untuk melihat Water Cube Aquatic Center, gedung persegi empat yang dindingnya seperti gelembung-gelembung air, tempat perlombaan cabang renang. Habis foto-foto kilat, saya bergegas balik ke tempat kumpul kembali yang telah disepakati. Benar-benar hanya sekilas info.

Berikutnya, kami akan menuju ke Summer Palace, istana musim panas tempat Kaisar dulu beristirahat. Waktu sudah sore ketika kami sampai ke tempat ini, dan berhubung saya suka danau, saya langsung menyukai tempat ini. Meskipun danau yang ada di kompleks ini merupakan danau buatan, menurut saya tempat ini di-design dengan cukup indah. Tempat peristirahatan yang ideal deh pokoknya. Tapi seperti kata pepatah: “Beauty is in the eye of the beholder”. Indah atau cantik itu tergantung mata orang yang melihatnya, jadi sangat relatif. Ketika sedang berjalan-jalan di kompleks ini, saya bertemu rombongan turis asal Indonesia. Dari seragam yang mereka pakai, ternyata rombongan ini adalah rombongan perusahaan. Mungkin sebagai bonus pencapaian target atau sejenisnya. Nah, salah seorang dari mereka ini bilang ke temannya: “Kayak begini indah??”. Berhubung saya bukan Kaisar atau keturunannya, saya tidak pantas tersinggung, cuma sedikit tergelitik saja. Memang tidak semua orang bisa menghargai atau mengapresiasi keindahan alam, seni arsitektur dan lain-lain. Dan bagi yang bisa pun, bisa melihat berbeda. Jadi celaan saudara kita itu pantas dimaklumi. Tiap orang berhak berpendapat. Tapi bagi saya pribadi sih, he’s totally nuts! (Excuse my French…)
Sunset @ Summer Palace
Tanpa terasa, waktu sudah menjelang malam dan matahari menjelang terbenam. Ternyata banyak fotografer yang sudah standby di dekat area jembatan yang melintasi danau untuk mengabadikan sunset. Benar-benar pemandangan yang menakjubkan. Saya juga tidak mau ketinggalan mengabadikannya dengan pocket digital camera saya. Jangan bandingkan hasilnya dengan mereka yang rata-rata memakai DSLR kelas berat lengkap dengan tripod. Tapi untuk ukuran mata normal sih, menurut saya foto yang saya ambil tidak jelek, meski cuma kualitas VGA. Saya juga tidak mau terlalu banyak dan lama mengambil foto karena ingin menikmati sunset secara LIVE. Akhirnya matahari pun terbenam di balik bukit dan itu artinya kami harus naik kembali ke bis menuju restoran untuk makan malam. Berbeda dengan makan siang, restoran untuk makan malam ini tidak begitu menonjol gedungnya. Dari pintu masuk yang relatif kecil, harus naik ke lantai dua dan berjalan di lorong sempit sebelum memasuki area restoran. Ternyata area makan restoran cukup besar, dan menu makanannya lumayan. Setelah makan malam kami pun pulang ke hotel untuk beristirahat. Hari yang cukup melelahkan tapi exciting. Beijing di pagi, siang dan sore hari, tetap saja indah....

- SW -

Friday, April 18, 2014

China Trip - Day 2 : Kuala Lumpur – Tianjin

Belum terasa memejamkan mata, telepon kamar sudah berbunyi sebagai morning call untuk membangunkan semua peserta tour. Dengan usaha yang luar biasa ekstra disertai doa, saya memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidur dan mandi. Gak bisa lama-lama menikmati air panas dari shower karena harus segera turun untuk early breakfast.

Setelah mandi dan beres-beres, memastikan tidak ada barang yang ketinggalan di kamar, terlebih-lebih dompet dan paspor, kami segera turun ke ruang makan hotel. Sesampainya di ruang makan, segala lini praktis dikuasai oleh peserta tour. Maklum, baru jam 5 pagi. Breakfast di hotel biasanya baru ada mulai jam 6, 6:30, tergantung hotel. Saya langsung mulai dengan menyantap semangkuk bubur. Setelah itu baru mencicipi sedikit menu-menu lainnya, terlalu pagi untuk makan banyak. Selesai breakfast kami segera naik bis untuk menuju bandara. Sesampainya di bandara, meskipun masih pagi tapi suasana sudah cukup ramai. Self check-in tiket kali ini dibantu oleh pengurus tour asal Malaysia, tour leader kami mengurus semua bagasi yang harus di check-in. Setelah itu kami hanya menunggu keberangkatan saja. Kami kembali naik AirAsia yang menggunakan pesawat Airbus A320-300, kelas ekonomi dengan formasi tempat duduk 3-3-3 dalam satu baris.

Kalau Anda bertanya mengapa selalu AirAsia yang dipakai dan bukan Singapore Airlines (SQ), Emirates atau sejenisnya, pastinya ada hubungan dengan masalah UUD (ujung-ujungnya duit). Prinsip ekonomi suatu bisnis kan mengeluarkan biaya minimum untuk mendapatkan keuntungan maksimum. Travel agent dan tour operator tidak terkecuali. Yang kayak gini kan anak kecil dan nenek-nenek juga tahu hehe…Semua penerbangan internasional (Malaysia-China pp) dan domestik (dalam wilayah Malaysia) di tour kami ini memang memakai AirAsia, kecuali satu, penerbangan jalur domestik di China. Catatan lain, bandara Tianjin tidak sebesar Beijing atau Shanghai, jadi memang tidak semua maskapai punya jalur terbang ke sini. Toh kalau mau ke Beijing dari Tianjin tinggal naik bis atau kereta api.

Pemandangan di dalam Airbus A320-300
 Tianjin cukup penting dalam perjalanan kali ini, karena merupakan kota persinggahan pertama di ‘Tour de China’ saya yang pertama, yang akan memberikan kesan pertama tentang negara ini. Pokoknya, yang serba pertama. Kita semua tahu kesan pertama sangat penting. Tanya saja kepada mereka yang menjalani interview pekerjaan untuk jabatan penting. Atau mereka yang ketemu dengan calon mertua untuk pertama kalinya J Dampaknya bisa berkaitan dengan hidup matinya seseorang hehe. Meskipun kita semua juga tahu, kalau kesan pertama itu tidak selalu akurat dan benar. Diperlukan informasi yang lebih lengkap dan waktu yang lebih lama sebelum kita bisa memberikan penilaian yang paling tidak lebih mendekati kebenaran tentang suatu hal atau seseorang.

Kembali ke soal Tianjin, sebenarnya saya tidak blank sama sekali tentang kota ini. Sebelum berangkat saya sempatkan untuk browse di internet, khususnya di www.wikitravel.org yang sudah jadi panduan wajib saya setiap kali ingin travelling. Saya juga menyempatkan untuk melihat video tentang kota Tianjin di YouTube. Video promosi kota Tianjin yang saya lihat membuat saya tidak bisa menahan diri untuk berdecak kagum. Kota ini sangat maju dan merupakan salah satu kota pelabuhan penting di Cina. Tata kota yang rapi, bersih dan hijau benar-benar asri dan menambah daya tarik kota ini.

Perjalanan wisata ke Cina dengan pintu gerbang Tianjin ini memakan waktu kurang lebih 6 jam. Setelah cukup lelah di dalam pesawat, dimana saya tidak benar-benar bisa beristirahat, rasanya akan sangat menyenangkan jika setelahnya bisa mendapat penghiburan berupa pemandangan yang menarik dan indah. Ketika turun dari pesawat yang tiba hampir jam 3 sore waktu setempat, kesan pertama saya, bandara Tianjin tidak besar tapi cukup modern. So, paling tidak kesan pertama saya cukup positif. Perbedaan waktu antara Tianjin dengan Jakarta (WIB) adalah 1 jam lebih cepat, sama seperti perbedaan waktu dengan Malaysia dan Singapura.  Setelah melewati bagian imigrasi dengan lancar, kamipun langsung menuju pintu keluar bandara.

Bandara Tianjin
Di sana tour guide kami yang merupakan warga lokal asli, sudah menunggu. Beliau ternyata bisa berbahasa Indonesia! Bukan itu saja, sang tour guide bahkan mengadopsi nama Indonesia, Ms. Eka. What a bonus! Jujur saja, saya agak sedikit surprise bercampur kagum. Ketika di Australia, saya pernah mengajar Bahasa Indonesia privat kepada dua orang anak SD dan seorang professor universitas. Dan saya bisa bilang, Bahasa Indonesia tidak terlalu sulit untuk dipelajari orang asing, tapi juga tidak mudah. Makanya saya angkat topi juga untuk tour guide kami itu. Meskipun lafalnya masih dengan aksen yang kental dan kadang-kadang tidak jelas dan kurang tepat, tapi menurut saya sudah cukup luar biasa. Apalagi menurut pengakuan beliau, dia hanya belajar di kursus selama enam bulan! Kalau mau dibalik, dulu saya pernah ikut kelas Mandarin di Jakarta, dan asal tahu saja, lafal murid-murid di kelas 90% amburadul!

Kami harus berjalan kaki keluar dari bandara ke area parkir bandara dimana bis pariwisata sudah standby. Sore itu matahari bersinar terang dan langit cerah dengan suhu yang nyaman, tidak dingin ataupun panas. Jadi ketakutan perubahan cuaca ekstrim dari panas di Indonesia ke dingin tidak terjadi. Menurut sang tour guide, musim semi di Tianjin suhunya hanya akan menjadi cukup sejuk dan dingin di malam hari. Di awal bulan April ini, pohon-pohon masih ‘botak’ sebagai dampak musim dingin yang baru saja lewat. Jadi harapan untuk melihat bunga-bunga musim semi yang mekar semerbak pupus sudah.


Setelah naik ke bis, tujuan pertama kami adalah Jalan Itali. Jalan ini adalah kompleks perumahan bergaya Eropa yang merupakan peninggalan kaum kolonialis. Gaya bangunan yang indah dan klasik langsung membuat saya suka dengan tempat ini. Tapi ini bukan hanya pendapat saya pribadi, buktinya waktu kami berkunjung ke sana, ada dua pasang pengantin yang sedang menjalani sesi foto-foto wedding. Apa sih yang lebih romantis dari foto wedding yang berlatar bangunan klasik Eropa? Jadi kalau Anda tertarik untuk mengambil foto-foto pre-wedding maupun wedding yang berlatar Eropa, tidak perlu jauh-jauh ke Perancis, Italia atau negara-negara Eropa lainnya, cukup ke Tianjin saja. Apalagi terbang ke Tianjin bisa menggunakan budget airline AirAsia dengan tagline nya yang catchy: “Now everyone can fly”.

Di area ini juga terdapat deretan restoran yang ditata dengan cukup apik sesuai dengan lingkungannya. Serasa berjalan di Eropa lah, dengan nuansa Asia karena para pelayan restoran yang merupakan warga lokal. Belum puas menikmati pemandangan dan suasana di sini, tour guide sudah memanggil kami untuk kembali ke bis untuk melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan berikutnya. Waktu yang singkat di sini cukup membuat saya jatuh cinta dengan kota ini dan ingin berlama-lama di sini. Tapi apa boleh buat, jadwal kami hanya numpang lewat dan sekilas info di Tianjin, sebelum menuju Beijing.

Jalan Itali

Dari jalan Itali, kami menuju ke Jalan Budaya. Area ini merupakan sebuah jalan kecil yang lebih mirip gang, dengan kompleks pertokoan di kedua sisinya.
Jalan Budaya
Tempatnya cukup menarik, tapi sayangnya berhubung waktu sudah sore menjelang malam, toko-toko yang buka tidak banyak. Tapi di sisi lain, sunset yang dilihat dari sini cukup indah, sedikit demi sedikit tenggelam di belakang gedung-gedung pencakar langit. Di sini, kamu bisa beli makanan kecil atau snack khas lokal. Ada juga toko yang menjual pakaian khas China, stand buku/majalah dan lain-lain. Setelah rombongan ibu-ibu peserta tour puas belanja, berikutnya kami meneruskan perjalanan ke Jalan Makanan.

That’s right, sesuai namanya, tempat ini merupakan suatu kompleks yang menjual makanan-makanan khas lokal. Tapi ada juga stand-stand yang menjual kerajinan tangan buatan lokal.
Jalan Makanan
Dari sini kami berjalan ke sebuah restoran ‘Muslim’ yang letaknya tidak jauh dari kompleks ini untuk makan malam. Saya sempat penasaran juga menunya seperti apa. Ternyata, meskipun namanya restoran ‘Muslim’, tapi makanan yang disajikan Chinese Food! Mungkin restoran ini bersertifikat halal, atau hanya sekedar penamaan. I’m not sure. Yang jelas makanan yang disajikan biasa saja, jadi saya tidak akan merekomendasikannya. Ada beberapa meja lain yang menunya kelihatannya seperti shabu-shabu. Mungkin menu ini yang harusnya kami coba. Tour guide kami ngaku kalau dia pilih restoran itu hanya karena letaknya yang dekat dengan kompleks Jalan Makanan. Soalnya setelah dinner kami harus naik bis menuju Beijing untuk bermalam. So time is money!

Setelah dinner, kami segera naik bis untuk meneruskan perjalanan. Di perjalanan, ada pemandangan fantastis kota Tianjin yang tidak akan saya lupakan. Di sebuah area kota yang dipisahkan oleh sungai, berhubung waktu sudah malam, lampu-lampu dinyalakan menghiasi jembatan dan area sekitarnya. Di dekatnya, berdiri sederetan apartemen yang juga dihiasi dengan lampu-lampu. So grand and beautiful! Di Tianjin, bagian bawah jalan tol juga dipasangi lampu sebagai bentuk tata rias kota.

Waktu yang hanya beberapa jam untuk sekedar melihat sekilas kota Tianjin, benar-benar terasa tidak mencukupi. Tapi apa boleh buat, resiko ikut tour dengan jadwal yang padat dan ketat. Tapi di sisi lain, saya juga sudah tidak sabar untuk melihat Beijing. Goodbye Tianjin, Beijing here we come!

Perjalanan naik bis dari Tianjin ke Beijing makan waktu kurang lebih dua jam. Berhubung di sepanjang jalan pemandangan yang ada cuma jalan tol, saya memutuskan untuk coba tidur saja. Petualangan dari KL kemarin cukup melelahkan, jadi harus manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk recharge. Fast forward, akhirnya bis memasuki kota Beijing. Pemandangan kota Beijing di malam hari cukup indah, gedung-gedung dihiasi dengan lampu warna-warni. Menurut Ms. Eka, hal ini memang bagian dari agenda resmi dari pemerintah kota Beijing untuk memperindah kota. Katanya kalau kita naik pesawat malam hari memasuki wilayah Beijing, dari atas kita akan melihat pemandangan lampu warna-warni yang sangat indah. Berarti next trip ke Beijing harus naik pesawat nih. Tidak lama kemudian akhirnya sampai juga di Hotel Peixin. Hotel bintang empat ini mendapat cukup banyak review positif di situs TripAdvisor dari para traveller yang pernah berkunjung.

Kesan pertama sih, hotel ini cukup besar dan bagus. Cuma, tidak adanya jalur khusus untuk menarik koper ke dalam hotel cukup menyulitkan. Tangga yang harus dinaiki untuk menuju pintu masuk hotel cukup tinggi. Jadi kalau koper yang dibawa banyak, besar dan berat, good luck deh. Tidak jelas waktu itu kenapa tidak ada jasa bell boy yang bisa membantu untuk angkat-angkat koper. Setelah sesi latihan otot singkat tapi padat ini, kami semua berkumpul di lobby sambil menunggu pembagian kunci kamar. Untungnya sih malam ini tidak selarut waktu tiba di hotel KL. Sehabis pembagian kunci, kami semua masuk ke kamar untuk beristirahat.

Pesan tour leader, besok morning call jam 6 pagi, paling lambat jam 8 kami sudah harus berangkat. Setelah itu breakfast dan full day tour di kota Beijing. De ja vu banget. Selama 12 hari tour ini memang harus membiasakan diri dengan hal ini: check-in hotel, morning call, breakfast, tour, check-in hotel, morning call, breakfast, tour, all over again. Sampai masuk ke alam bawah sadar deh pokoknya. Besok agendanya adalah mengunjungi Tiananmen Square (Lapangan Tiananmen), Forbidden City (Kota Terlarang), Olympic Park dan Summer Palace (Istana Musim Panas).

Saat masuk  ke kamar, memang bersih dan nyaman. Ada satu hal yang membuat saya tidak bisa menahan senyum. Di dinding WC ditempel peringatan untuk berhati-hati supaya tidak terpeleset yang ditulis dalam dua bahasa, Mandarin dan Inggris. Tertulis: “Carefully Slipping” yang kalau mau diterjemahkan secara harafiah artinya: “Secara perlahan-lahan terpeleset” haha...tidak heran kalau lowongan mengajar Bahasa Inggris cukup banyak di China, terutama untuk para native speakers. Setelah mandi, it’s bedtime. Good night Beijing, we’ll see you tomorrow!


- SW -

Wednesday, April 9, 2014

China Trip - Day 1 : Pontianak – Kuching – Kuala Lumpur


Setelah sekian lama menjadi wacana, akhirnya jadi juga saya travelling ke China. Berhubung saya berangkat bersama orang tua, opsi yang dipilih adalah mengikuti tour lokal yang ada di kota saya. Yang menjadi pertimbangan adalah soal kenyamanan dan kemudahan. Meskipun konsekuensinya masalah biaya yang dikeluarkan harus sesuai dengan yang di-charge oleh tour operator, yang umumnya lebih besar jika dibandingkan dengan independent travelling tanpa jasa tour dari travel agent. Setelah sedikit browsing paket-paket tour yang ditawarkan beberapa travel agent lokal, akhirnya diputuskan untuk ikut paket tour 12 hari China Exciting. Paket ini dipilih karena kota Guilin termasuk ke dalam salah satu kota tujuan. Kota ini keindahan pemandangannya sudah mendunia. Selebihnya, kota-kota lain yang dikunjungi relatif sama di antara paket-paket tour yang ada. Kemudian saya tinggal menyerahkan travel documents berupa passport, KTP, KK dan pas foto dengan latar putih ukuran 4x6 dua lembar untuk permohonan Visa. Setelah tiket pesawat di-issue, dilakukan pembayaran DP sebesar kurang lebih 50% dari total biaya paket tour. And last but not least, singkat cerita, pelunasan pembayaran dilakukan setelah permohonan Visa kunjungan telah disetujui pemerintah China. Akhirnya, Visa yang bergambar Tembok Besar China itu tertempel rapi juga di passport saya. Excited dong. Sekarang tinggal countdown menghitung hari sebelum Hari-H keberangkatan. Can’t hardly wait!

Setelah menjalani masa penantian yang sempat dihiasi dengan sedikit rasa khawatir tidak bisa berangkat karena sakit menjelang hari keberangkatan (maklum, penyakit kronis orang melankolis hehe), akhirnya hari yang ditunggu-tunggu sampai juga! Perjalanan diawali dengan rute darat dari Pontianak, Kalimantan Barat ke Kuching (ibukota negara bagian Sarawak, Malaysia) dengan bis. Mengapa lewat jalur ini? Well, kebetulan saya tinggal di kota ini, dan rute yang dipakai pihak tour operator memang lewat jalur ini. Seperti kata pepatah ‘Banyak Jalan ke Roma’, begitu juga dengan ke China. Banyak jalur yang bisa ditempuh, tergantung daerah atau kota yang ingin kita tuju. Naik pesawat direct dari Jakarta jelas bisa, seperti yang dilakukan oleh tour-tour yang berangkat dari Jakarta. Jam 6 pagi kami sudah berkumpul di depan kantor bis yang akan kami pakai untuk berangkat ke Kuching. Berhubung belum semua peserta hadir, kami masih harus menunggu beberapa saat sebelum akhirnya dipanggil Tour Leader untuk mengambil kembali passport masing-masing, kemudian naik ke bis untuk berangkat. Jalan yang kami tempuh adalah melalui jalan baru yang lebih pendek dan singkat. 

Selama perjalanan yang ditempuh kurang lebih 7-8 jam, kami sempat berhenti untuk beristirahat dua kali.Yang pertama untuk sekedar ke toilet, minum teh/kopi dan makan snack ringan. Dan yang kedua untuk istirahat makan siang. Tempat persinggahan pertama adalah warung makan berukuran sedang, yang awalnya tidak saya ketahui ada di mana persisnya. Tapi setelah sedikit “menjelajah”, saya temukan juga informasi nama tempat ini terpampang di papan nama rumah makan. Ternyata lokasi ini bernama Simpang Gunung Benuah, yang jujur saja sama sekali tidak membawa pencerahan karena baru pertama kali saya dengar :) Serasa berada di negeri antah berantah. Rumah makan sekaligus tempat perhentian dan peristirahatan bagi kendaraan-kendaraan yang lewat ini letaknya cukup terisolir. Memang selain rumah makan ini masih ada deretan beberapa pintu rumah toko satu tingkat. Kalau melihat dari jalan, sejauh mata memandang tidak kelihatan ada lokasi sejenis, hanya pohon dan bukit. Tapi jalan aspal di sini sudah bagus dan mulus, yang membuat saya sedikit surprise. Di sini kita bisa membeli mulai dari snack ringan seperti roti sampai ke makanan yang lebih berat seperti mie rebus. Dan tentu saja, menu standard seperti teh, kopi, dan berbagai minuman kemasan lainnya. 


  







Sedangkan tempat perhentian yang kedua merupakan rumah makan Padang yang besar. Saking besarnya, ada ruang khusus untuk tempat makan para sopir bis. Perkiraan saya sih, tempat khusus ini dibuat untuk makan gratis para supir bis yang sudah membawa penumpang bis makan ke sana. Semacam komisi lah. Di belakang rumah makan juga ada taman hias yang cukup bagus, lengkap dengan jembatan mini dan patung-patung seni berukuran cukup besar. Harga makanannya cukup mahal, apakah untuk kompensasi biaya renovasi taman? Hehe...Saya pikir harga yang mahal ini mungkin ada hubungan dengan biaya transport yang mahal untuk mengangkut bahan baku dan produk makanan minuman ke lokasi. Lebih baik berpikir positif, daripada berpikir negatif dan emosi karena merasa di-overcharged, tapi tetap mesti bayar karena sudah terlanjur makan dan minum! :) Tapi yang membuat saya cukup terkesan dengan kedua tempat persinggahan ini adalah dua-duanya memasang TV LCD untuk tontonan para tamu. Not bad untuk tempat yang letaknya jauh dari kota. Dari sini perjalanan dilanjutkan sampai ke wilayah perbatasan Entikong, di mana kami semua harus turun dari bis untuk diperiksa passport dan form imigrasi di dua tempat. Yang pertama di pintu imigrasi Indonesia, dan yang kedua di pintu imigrasi Malaysia. Masuk  ke wilayah Malaysia tidak memerlukan Visa, sebagai bentuk kerja sama negara ASEAN. Dulu pernah dikenakan biaya fiskal, tapi sekarang sudah tidak lagi. Setelah melewati dua gerbang ini, kamipun naik kembali ke bis untuk melanjutkan perjalanan ke pusat kota Kuching. Dari wilayah perbatasan Tebedu ini, masih diperlukan kurang lebih satu jam untuk mencapai pusat kota Kuching.



Ketika akhirnya sampai di Kuching, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 4 sore waktu setempat. Agenda pertama setelah sampai di Kuching? Makan-makan! Berhubung restoran yang akan kami tuju baru akan buka jam 5 sore, kami sempat berputar-putar dengan bis melihat pemandangan kota Kuching. Dari banyak segi, menurut  saya kota ini jauh lebih maju dari Pontianak, atau bahkan kota-kota besar di Indonesia sekalipun dari segi tertentu. Yang paling mencolok adalah soal kebersihan dan tata kota yang rapi dan asri. Boleh dibilang, Kuching merupakan Singapura mini. Jauh dari kesan carut marut yang identik dengan kota-kota di Indonesia. Setelah sightseeing singkat ini, kamipun langsung menuju ke restoran yang sudah di-booking sebelumnya. Ternyata restoran yang kami tuju adalah sebuah restoran Chinese food yang terletak di dekat pasar. Di area ini terdapat cukup banyak tempat makan. Restoran tempat kami menyantap early dinner ini tidak begitu besar. Tapi kelihatannya cukup punya reputasi karena di dalamnya ada panggung pengantin untuk acara resepsi wedding. Mungkin restoran ini cukup terkenal bagi penduduk lokal. The food?  Kalau menurut saya sih, biasa saja. Masih lebih enak masakan ‘cap cai’ ala Pontianak :)



Habis santap malam, kami langsung menuju bandara. Meskipun pesawat yang akan kami naiki ke Kuala Lumpur baru akan terbang jam 8 malam, kami sudah standby di bandara beberapa jam sebelumnya. Saya sudah mempersiapkan diri untuk waktu tunggu seperti ini dengan membawa beberapa buku, dan juga netbook. Maklum, nasib traveller yang gak punya iPad hehe. Peserta tour diberikan kesempatan untuk acara bebas di dalam area bandara oleh tour leader, dengan catatan sudah harus kumpul kembali di jam dan tempat yang sudah disepakati. Kondisi bandara Kuching masih kurang lebih sama dengan beberapa tahun lalu terakhir saya kunjungi. Dua kali terakhir saya singgah di bandara Kuching yaitu tahun 2005 dan 2009. Kali pertama, kondisi bandara masih tidak jauh beda dengan bandara Supadio di Pontianak dengan design arsitektur tipikal gedung-gedung lama di Indonesia. Tapi kali kedua, bandara yang sudah direnovasi sudah beda jauh kondisinya. Design bandara yang baru jauh lebih bagus dan modern, cukup membuat saya kagum waktu itu. Kali ini yang ketiga pun, meskipun tidak se-surprise dulu, tetap cukup berkesan. Perubahan mencolok yang saya lihat adalah, kehadiran maskapai lokal AirAsia benar-benar dominan. Salah satu pintu masuk ke bandara ini dipasangi iklan AirAsia dengan nuansa merahnya, yang menginformasikan maskapai ini terpilih sebagai budget airline (maskapai murah) terbaik di dunia tiga tahun berturut-turut, 2009-2011. Belakangan perusahaan ini juga ekspansi ke bidang budget hotel dengan brand Tune Hotel. Tune Hotel ini merupakan sponsor resmi seragam para wasit di Premiere League Inggris di musim 2011-2012. Para penggemar bola fanatik juga pasti tahu kalau Boss AirAsia, Mr. Tony Fernandez adalah owner klub sepakbola Inggris, Queens Park Rangers (QPR).






Sempat tergoda untuk ngopi di Starbucks sambil surfing internet, saya akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan di area luar pintu bandara untuk melihat sunset. Benar-benar keputusan yang tepat karena sunset sore itu sangat indah. Sambil foto-foto, saya benar-benar menikmati pemandangan dan suasana sekitar. Viewing point saya terletak di area yang kira-kira setinggi lantai tiga, perfect untuk menikmati sunset. Di bawah, area parkir mobil bandara tersusun dengan rapi dan saya melihat beberapa fotografer juga asik mengabadikan sunset sore itu. Saking asiknya menikmati suasana, tanpa terasa waktu sudah menjelang malam. Saya pun masuk kembali ke ruang duduk di bandara untuk langsung meng-backup foto-foto ‘berharga’ yang barusan saya ambil ke dalam netbook. 


Tak lama kemudian kami sudah diminta untuk berkumpul kembali untuk menerima boarding pass dari tour leader. Fasilitas self check-in yang ada di bandara memang sangat memudahkan. Jadi check-in bisa dilakukan oleh tour leader saja dengan mengumpulkan passport peserta tour. Berikutnya, tinggal menuju ke counter AirAsia untuk check-in bagasi. Setelah semua bagasi beres, kami menuju waiting room, yang sebenarnya hanya berupa satu lorong panjang yang diberi tempat duduk di tepi. Jadi bukan satu ruang tunggu khusus yang terpisah-pisah. Belum begitu lama menunggu, kami langsung dapat kabar baik, pesawat yang akan kami naiki delay! Meskipun hanya delay sekitar setengah jam, akan menyebabkan jam tiba di Kuala Lumpur semakin larut. Waktu terbang antara Kuching dan Kuala Lumpur sekitar dua jam. Daripada kesal dengan keadaan yang tidak bisa diubah, saya memutuskan untuk menunggu sambil baca saja. Ketika akhirnya masuk ke pesawat, sudah jam 9 lewat, yang artinya akan tiba di Kuala Lumpur kurang lebih jam 11 malam! 

Di dalam pesawat, percobaan untuk tidur kurang berhasil. Jadi ketika pilot mengumumkan bahwa tidak lama lagi pesawat akan landing di bandara KLIA Kuala Lumpur, saya benar-benar bernafas lega. Begitu tiba di bandara, kami masih harus menunggu bagasi dan setelah itu naik bis untuk check-in ke hotel untuk bermalam. Sebenarnya istilah bermalam kurang tepat, karena waktu sampai di hotel, sudah lewat tengah malam alias sudah ganti hari! Masih harus menunggu beberapa saat untuk pembagian kunci kamar, akhirnya kami resmi memasuki kamar untuk tidur kurang lebih jam 1 subuh. Besok pagi, morning call jam 4:30 karena pesawat yang akan kami naiki menuju kota Tianjin di China terbang jam 08:00. Batas check-in untuk penerbangan internasional adalah dua jam sebelumnya, yang artinya kami sudah harus tiba di bandara sebelum jam 06:00. Jadi malam ini, ehm..maksud saya pagi ini kami hanya punya waktu untuk beristirahat kurang lebih 3 jam.  Jadi begitu mendapat kunci kamar, saya langsung ‘terbang’ ke dalam kamar, cuci muka, gosok gigi dan mencoba untuk tidur secepatnya! (yeah right, maunya sih). Gak lucu kalau sampai di Tianjin dalam keadaan setengah sadar, berhalusinasi dan tidak bisa menikmati tour. Lupakan soal mandi! Mandi besok pagi saja, ehm...nanti saja setelah jeritan morning call dari receptionist beberapa jam lagi.

And that, ladies and gentlemen, adalah akhir skenario hari pertama!


- SW -

Thursday, March 27, 2014

Why China?


"China is a great country with a great culture, populated by fascinating, industrious and talented people."

Vladimir Putin -


Dari sekian banyak tujuan wisata di dunia ini, mengapa harus memilih China? Good question. Tapi bagi para traveller sejati, traveling ke China bukanlah masalah pilihan, melainkan suatu kewajiban! Apalagi setelah adanya “provokasi” positif dari petualang dunia sekelas Marco Polo yang dulu pernah menjelajahi China dan sangat terkesan. Tapi kalau fakta tersebut tidak cukup untuk meyakinkan kamu dalam mengambil keputusan, ada beberapa fakta menarik tentang China yang mungkin akan membuat kamu mempertimbangkan negara ini sebagai tujuan traveling Anda berikutnya:
§  Seperti yang sudah umum diketahui, China adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia sebanyak 1.3 milliar. Minimal sekali dalam seumur hidup kamu harus melihat sendiri seperti apa kepadatan penduduknya J
§  Secara geografis China adalah negara terbesar ketiga di dunia dibawah Rusia dan Canada, dengan luas wilayah 9.600.000 km persegi.
§  Menurut World Tourism Organization, di tahun 2011:
  • China menduduki peringkat ketiga di dunia untuk tingkat wisata inbound (jumlah wisatawan asing yang travelling ke China).
  • Jumlah turis asing yang masuk ke China dan menginap adalah sebanyak 57.58 juta orang, atau tumbuh 3.44%.
  • Pendapatan devisa naik 5.78% mencapai 48.5 miliar dollar.

§  Dan kalau hal-hal tersebut pun belum cukup mengesankan kamu, ada fakta-fakta menarik tentang China versi Business Insider:
  • Sampai dengan tahun 2025, China diperkirakan sudah akan membangun 10 (sepuluh) kota seukuran kota New York.
  • Sampai dengan tahun 2030, akan ada pertambahan jumlah penduduk kota-kota di China sebanyak 350 juta, lebih besar dari jumlah seluruh penduduk Amerika Serikat saat ini (313 juta).
  • Saat ini China mengkonsumsi baja dua kali lebih banyak dibandingkan dengan total konsumsi baja Amerika Serikat, Eropa dan Jepang.
  • Jika suatu hari nanti setiap penduduk China menggunakan minyak sebanyak penduduk Amerika, dunia akan membutuhkan tujuh negara sekelas Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan ini.
  • Jumlah penganut Kristen di China sudah lebih besar dari Italia, dan China sedang berada dalam jalur untuk menjadi pusat Agama Kristen terbesar di dunia.
  • Penduduk China lebih percaya terhadap proses evolusi manusia dibandingkan penduduk Amerika J
  • PDB China akan melewati PDB Amerika Serikat di tahun 2020.


Semua faktor di atas ditambah kesempatan untuk melihat langsung atraksi wisata fenomenal yang hanya ada di China seperti Tembok Besar China, Kota Terlarang, Summer Palace, Temple of Heaven dan Bird’s Nest di Beijing; naik ke Menara TV Shanghai yang sangat iconic, menyeruput teh kelas dunia di Hangzhou; mengunjungi Venisia nya Asia, Suzhou; menikmati indahnya musim semi di Taman Li, Wuxi; dan Guilin yang keeksotisan pemandangannya begitu fenomenal, harusnya lebih dari cukup untuk meyakinkan kamu. Kalau tidak, kemungkinannya hanya ada dua, kamu amat sangat tidak suka travelling atau salah buka blog  J


- SW -

Tuesday, February 25, 2014

2565 in SG

Tahun Baru Imlek 2565 yang jatuh pada tanggal 31 Januari 2014 saya rayakan di The Garden City, Singapura. Tiba sehari sebelumnya pada tanggal 30 Januari dan langsung melakukan serangkaian aktifitas, sebenarnya di malam harinya saya sudah lumayan lelah. Ditambah kondisi fisik yang kurang begitu fit, saya sempat terpikir untuk beristirahat saja di rumah dan membatalkan niat untuk merasakan hebohnya suasana malam tahun baru di Chinatown. Tapi akhirnya saya membulatkan tekad untuk berkunjung juga ke pusat perayaan Lunar New Year di Singapura itu. Pertimbangannya, saya sudah terlanjur ada di sana, ini event yang hanya terjadi setahun sekali, ditambah sedikit terpancing provokasi media dan sumber-sumber lain yang mengiklankan bahwa perayaan tahun ini akan lebih meriah. Jadi meskipun saya sudah pernah beberapa kali merasakan meriahnya atmosfir di sini termasuk tahun lalu, I decided to put on my sweater and go.

Kurang lebih jam 22:00 waktu setempat, sayapun berjalan ke salah satu halte bis terdekat dari tempat tinggal saya. Halte bis di area Jurong Kechil ini lengang waktu saya sampai di tempat. In fact, I was the only person at that bus stop. Sekitar 10 menit kemudian, bis yang saya tunggu pun tiba. Bis ini akan saya tumpangi sampai ke bus interchange di dekat stasiun kereta api Bukit Batok. Berikutnya, saya akan melanjutkan perjalanan ke Chinatown dengan MRT. Berbeda dengan waktu di halte, ketika saya tiba di stasiun suasananya tidak sepi, meskipun juga tidak bisa dibilang ramai.  Tidak seperti tahun lalu, kali ini ada sedikit perubahan untuk tiket MRT. Kalau tahun lalu tiketnya masih berupa kartu plastik berwarna hijau, yang sehabis dipakai bisa dikembalikan lewat mesin dan kita akan memperoleh kembali uang deposit satu dollar. Kali ini tiketnya berupa kartu yang terbuat dari kertas yang tidak bisa dikembalikan dan tidak ada depositnya. Sebagai gantinya, kita dapat memakai kembali kartu tersebut untuk enam kali perjalanan berikutnya, dengan cara men top up nya di mesin pembelian tiket.


Ketika akhirnya sampai di platform untuk menunggu kedatangan kereta, calon penumpang cukup ramai. Jam menunjukkan pukul 22:25. Panel informasi MRT menunjukkan kereta akan tiba dalam waktu tiga menit. That’s what I love about this country. Dari dua pengalaman sederhana naik transportasi umum saja, saya sudah merasakan kenyamanan di negara ini sebagai turis. Tidak heran kalau negara ini disebut memiliki infrastruktur terbaik di dunia. Mungkin bagi warga lokal, adanya fasilitas dan kenyamanan seperti ini adalah hal yang sangat biasa dan sudah layak dan sepantasnya. Well...mereka belum pernah merasakan naik angkot di Jakarta. Jadi kalau mereka punya gratitude issue, “terapi angkot” ke Jakarta sangat layak dipertimbangkan :)



Setibanya di stasiun Chinatown jam 23:05, seperti pengalaman sebelumnya, tempat ini sudah dipenuhi lautan manusia. Cukup banyak petugas yang standby untuk membantu kelancaran lalu lintas yang sudah “macet” bahkan sebelum keluar dari stasiun. Bayangkan saja, saking ramainya, untuk sekedar naik eskalator dari dalam stasiun menuju ke area jalanan Chinatown, jumlah pengunjungnya harus dibatasi dan dipecah menjadi perkelompok oleh petugas.  Masalahnya, sudah terjadi bottleneck begitu keluar dari stasiun karena banyak pengunjung yang berhenti berjalan untuk melihat pernak-pernik yang dijual rentetan toko di seantero Chinatown. Untungnya crowd management di sini berjalan cukup efektif sehingga waktu mengantrinya tidak terlalu lama. Sekitar 5 menit kemudian saya sudah menghirup udara bebas di jalanan Chinatown, yang cukup melegakan dibandingkan ketika masih harus menunggu di dalam stasiun.

Awalnya tidak ada pemandangan di sini yang bisa dibilang baru bagi saya. Sampai ketika saya melihat The Tintin Shop. Adanya toko collector’s item yang terkesan salah lokasi ini tentu saja menarik perhatian. Tapi saya yakin pemiliknya pasti mempunyai pertimbangan tersendiri mengapa membuka tokonya di area ini. Saya tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk masuk melihat-lihat ke dalam toko ini. Antara terkejut dan tidak, saya hanya bisa tersenyum dalam hati melihat harga barang-barang di sini yang berkisar antara puluhan dollar sampai ratusan dollar Singapura. Just to give you some idea, itu artinya antara ratusan ribu rupiah yang paling murah, sampai ke jutaan rupiah (asumsi kurs SGD = Rp 10.000). Tapi kembali lagi, namanya juga barang koleksi. Harga mungkin tidak terlalu menjadi masalah bagi para fans Tintin sejati. Koleksi komik Tintin Anda belum lengkap atau ada yang hilang/rusak? Bisa dibeli di sini dengan catatan stock masih ada, karena dari pengamatan saya ada beberapa judul yang out of stock. Barang-barang lain berupa patung-patung pajangan, miniatur kapal layar, kaus dan lain-lain yang sayangnya tidak diperkenankan untuk difoto. Bisa saja sih kalau Anda mau curi-curi foto, but do it at your own risk. Lumayan juga seandainya tertangkap petugas yang sedang berjaga dan Anda ditegur di tengah keramaian :) Setelah puas melihat-lihat di sini, saya kembali terjun ke lapangan, ke tengah keramaian di gang-gang dalam kompleks Chinatown yang jelas bukan untuk mereka yang anti hiruk pikuk.










Berhubung memang tidak berniat belanja, saya hanya berjalan-jalan di kompleks ini melihat-lihat sambil menikmati suasananya saja. Untuk melepas lelah, saya sempat break sejenak di area di tepi jalan besar yang dibatasi dengan pagar pengaman. Di sini lalu lintas manusia tidak seramai di dalam kompleks Chinatown, jadi bisa dimanfaatkan untuk refreshing melepaskan diri sesaat dari pusat keramaian. Mobil yang lalu lalang di jalan masih cukup banyak meskipun sudah menjelang tengah malam. Deretan lampion berbentuk kuda digantung memanjang di kedua sisi pertokoan yang mengapit jalan raya ini, melambangkan Tahun Kuda di penanggalan kalender Cina. Setelah puas istirahat, sayapun berjalan kembali ke dalam area kompleks Chinatown sambil menantikan kembang api yang menandakan pergantian tahun. Cukup penasaran juga bagaimana kembang api tahun ini, apakah benar akan lebih spesial. Tidak lama kemudian, ketika saya sedang menyusuri salah satu lorong, akhirnya terdengar juga suara kembang api. Semua pengunjung seakan kompak berhenti berjalan dan memandang ke langit untuk melihat dan mengabadikan momen ini. Sayangnya, kembang api kali ini boleh dibilang tidak ada bedanya dengan yang dulu pernah saya lihat waktu ke sini. Mungkin yang lebih meriah adalah acara di panggung utama, yang tidak saya datangi karena sudah penuh sesak dengan pengunjung waktu saya tiba di Chinatown.





Meskipun sedikit kecewa, secara keseluruhan saya tetap cukup menikmati kunjungan kali ini. Karena selain di sini, menurut saya meriahnya suasana perayaan Tahun Baru Cina tidak terlalu dirasakan di area lain di Singapura. Apalagi kali ini saya membawa pulang kesan lain yang tidak dirasakan di pengalaman-pengalaman sebelumnya. Kalau dulu hanya merasakan desak-desakan berjalan di tengah kerumunan, kali ini sempat sedikit merasakan aksi dorong-dorongan akibat jumlah pengunjung yang benar-benar membludak. Tapi kejadian ini tidak terlalu serius dan sampai memakan korban.












Setelah momen kembang api, acara di panggung utama masih berlanjut. Tapi pengunjung di sini sudah terpecah, ada yang berjalan kembali ke stasiun MRT untuk pulang dan ada pula yang masih berkutat di sini untuk belanja ataupun sekedar nongkrong. Saya memutuskan untuk foto-foto sebentar sebelum pulang, karena waktu di puncak keramaian agak sulit untuk mengakses area yang bisa dijadikan obyek foto. Keinginan untuk mengambil foto ini pun saya batasi karena tidak ingin sampai ketinggalan kereta terakhir yang berangkat dari Chinatown jam 02:00 pagi. Akhirnya ketika saya sudah berada kembali di platform di dalam stasiun untuk naik kereta pulang, jam sudah menunjukkan pukul hampir 01:10 pagi. Suasana di dalam stasiun sudah lengang dan hanya ada segelintir orang yang menunggu. Waktu akhirnya sampai kembali di bus interchange Bukit Batok, ternyata bis yang ingin saya tumpangi sudah tidak beroperasi lagi. Apa boleh buat, terpaksa naik taksi untuk pulang ke rumah yang pastinya jauh lebih mahal. Kalau mau disimpulkan untuk pengalaman Chinese New Year di Singapura kali ini, some things may have stayed the same, but still...it’s a different experience every time. Ma Dao Chen Gong! Selamat Tahun Baru Kuda yang membawa sukses dan rejeki!

- SW -